Feeds:
Tulisan
Komentar

Diklatsar IX Mapala Unifa (1)

PELEPASAN DIKLATSAR IX MAPALA UNIFA
PELEPASAN DIKLATSAR IX MAPALA UNIFA

Semua peserta dan panitia nampak siap-siap; ada yang masih mem-packing pakaian, makanan instant, kompor ke dalam tas besar (carrier), menyetel dan merapikan carrier-nya kembali. Menggulung matras (spon) dan menyelipkannya di samping carrier, memakai sepatu tracking dan masih ada diantara mereka bingung “apa lagi yang kurang?”

Siang itu, selasa 16 Desember 2008, langit diatas Markas Besar (Mabes) Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Universitas Fajar (unifa) terlihat sangat mendung. Sebentar lagi hujan deras menguyur acara pelepasan ini. Bagaimana dengan Maros, lokasi Diklatsar? “Pastilah hujan” kata Ophal

“Siaaap grraakkkk!” teriak pian, mantan ketua Kompala Stikom Fajar (nama sebelum Universitas Fajar terbentuk) ditugasi sebagai kordinator lapangan (korlap) Diklatsar IX Mapala Unifa. Suaranya memecah kebisingan peserta dalam lapangan basket Unifa.

“Kita akan ke lapangan bukan untuk main-main!” tegasnya dihadapan barisan peserta yang berbaris rapi dengan carrier di depannya.

“Tapi untuk belajar di alam. Di lapangan peserta akan dibatasi oleh aturan. Jadi saya memberikan waktu dua menit untuk berpikir untuk mundur dari kegiatan ini. Jika kalian tidak siap menerima aturan”

“Bagaimana. Siap?” teriaknya
“Siap!” teriak peserta
“Bagaimana. Siap?” tanyanya lagi untuk menegaskan
“Siaap!” serentak peserta. Raut wajahnya nampak berubah, keluh dan kesah mendengar ucapan itu. Namun ini pendidikan kawan!. Pendidikan – apa lagi di alam (Maros) cukup ganas – akan berjalan baik jika ditopang oleh aturan.

Persiapan pelepasan dirasa telah selesai oleh Pian. Dibelakangnya, Kepala Biro Kemahasiswaan Unifa, Muchlis Hasan SE, M.Si sedari tadi menunggu dan siap untuk melepas secara ini secara resmi. Disampingnya berdiri Opal (Moh. Fhadli Alim) ketua Mapala Unifa, Odilia Palamba,Sekretaris dan para panitia.

PELEPASAN DIKLATSAR IX MAPALA UNIFA

PELEPASAN DIKLATSAR IX MAPALA UNIFA

“Inti dari kegiatan organisasi ini bukanlah bagaimana kalian harus bisa memanjat tebing, menaiki gunung atau menelusuri lorong-lorong gua yang gelap. Tapi bagaimana kalian bisa menumbuhkan rasa kebersamaan dan kekompakan dan mengelolah organisasi dengan baik dan benar” tegas Bapak Muchlis, yang juga akrab disapa Kak Buci ini.

Sambutan pelepasan Ka.Biro Kemahasiswaan Unifa, Muchlis Hasan, SE, M.Si

Sambutan pelepasan Ka.Biro Kemahasiswaan Unifa, Muchlis Hasan, SE, M.Si. Didampingi Korlap, Pian Umar.

Tak lama setelah ceramah pelepasan itu, barisan peserta bersama korlap diguyur hujan. Semua basah, pakaian, badan, carrier dan barang bawaan lainnya.

Hujan yang menjatuhi atap Seng gudang kertas dan podium yang berada dalam lapangan basket meredam suara pian membacakan peraturan di hadapan peserta. Tak ada kompromi dari pembacaan itu.

Instruksi dari "Bapak" Korlap

Instruksi dari "Bapak" Korlap

Peserta hanya tujuh orang, tiga laki-laki dan empat perempuan. Mereka dipecah menjadi dua kelompok, menurut jenis kelamin dan menunjuk Putri dan Mardiah sebagai pendamping. Setelah itu, pendamping memeriksa bawaan peserta yang terlalu banyak dan berat.

Kemudian melucuti barang-barang dan pakaian karena terlalu banyak, bahkan makanan. Gunanya agar peserta tidak terlalu kewalahan membawa beban yang tidak penting untuk digunakan dilapangan. Seperti baju dan celana, minyak rambut, deodorant, bodylation,dan lain-lain. Kemudian mereka diberi satu carrabiner dan dua gukungan webbing, untuk diperguna dalam kegiatan di lapangan nanti

doa bersama sebelum berangkat

doa bersama sebelum berangkat

Rombongan Diklatsar IX Mapala Unifa meninggalkan kampus Unifa sekitar 16.30 Wita, dengan menaiki mobil pete-pete carteran dengan kode “D”sampai di pasar Daya. Kemudian menyambung pete-pete Maros lagi..

Singkat cerita, Pete-pete rombongan tiba di lokasi kegiatan, sekitar pukul lima sore. Tanpa istirahat, peserta digiring langsung menuju Tebing Depsos (tepatnya dibelakang kantor Departemen Sosial “Makkareso” Kabupaten Maros). Mereka pun diperintahkan untuk membuat tenda darurat alias bivak dan mencari ranting-ranting pohon untuk dijadikan api unggun.

“Dimusim hujan ini, kayu kering susah didapatkan. Untuk itu mereka harus inisiatif untuk tetap bertahan” ucap Pian

Kelompok laki-laki, terdiri; Ardy, Opik dan Adil. Sementara kelompok perempuan; Irma, Christin, Yuyun, dan Lana. Mereka nampak bahu-membahu mendirikan bivak, mengikat ujung ponco (jas hujan tentara) dipohon-pohon dan bongkahan batu besar terdekat mereka. Kemudian salah Adil dan Yuyun mengambil air untuk keperluan masak dan lainnya.

Pendirian bivak dua kelompok selesai sekitar pukul 18.00 Wita. Sementara usaha mereka membuat api unggun, dinilai gagal. Sedari sore memancing api hanya menghasilkan bara api setelah itu mati. Api unggun yang dimaksudkan sebagai penerangan dan pelindung dari binatang, ditaktisi dengan lilin. “Pantas ko tidak nyala, yang dibakar batang bambu. Coba ko batang kayu. Pasti terbakar?” kata putri pada kelompok perempuan.

“Ba’da Isya, Kak Azis datang, menyuruh kami bergegas memasak” kata Ardy, salah satu peserta. Kemudian menyuruh bangunkan Adil.
“Sekarang saya akan mengganti nama kalian” kata Azis
“Adil namamu sekarang “Nesting”, kau Opik dengan “Kompor” dan Ardy sebagai “Korek”. Sedangkan nama kelompokmu Gunung Bawakareang”

Sementara di kelompok Perempuan, diberi nama Gunung Bulusaraung dan memberi nama Irma dengan “Piton”, “Christin” dengan “Figur”, Yuyun “Frussik”, Lana dengan “Carabiner”.

Karena hujan, Api unggun kelompok Bawakaraeng mati. Api dapat menyala setelah satu jam berusaha meniup sampai napas hampir habis dan mengipas lalu memisahkan batang bambunya. Tapi menghabiskan dua batang lilin. Itu pun setelah Pian datang dan menyarankan agar batang bambu dikeluarkan dan mencari lagi kayu bakar” ucap Opik “kmpor” yang sementara jaga malam.

“Sekitar pukul tiga dini hari, Kak Azis datang” kata Opik, lalu menegur kami karena api unggunnya mati. Lalu menyuruhku untuk membangunkan Adil dan Ardy. Kedatangan Kak Azis kali ini untuk memberikan amanah.

“Apa itu amanah” Tanya Azis pada mereka bertiga.
“Tanggungjawab, kak? Jawab Ardy “Korek”.
Lalu Azis mengeluarkan sebutir telur mentah yang bertuliskan “Mapala Unifa”
“Telur ini adalah amanah, kalian harus selalu menjaganya dan membawanya setiap kegiatan. Kalo pecah, ada ganjarannya?” seru Azis.

Tak lama, pendamping kelompok bawakaraeng ini mengeluarkan tali rapiah.“Untuk apa ini?” Tanya Adil Nesting.
“Mana pergelangan kaki kananmu ” lalu Azis mengikat kaki kanan mereka.
“Ingat ikatan ini jangan dilepas. Dimana pun kalian harus tetap bersama?” tegasnya

Begitu pula kelompok gunung Bulusaraung. Pergelangan kaki kirinya diikat oleh pendampingnya, Putri dan Ijah. Dikelompok ini, karena keasyikannya tidur tendanya terbakar!

***

lokasi Diklatsar IX Mapala Unifa

lokasi Diklatsar IX Mapala Unifa

Adzan subuh dari Musala Depsos membangunkan peserta dan panitia. Hari kedua Diklatsar IX Mapala Unifa pun dimulai.

“Bangun…bangun…bangun!” teriak pian sebagai Korlap dari tanah Enrekang ini

Kemudian Pian bergegas membangunkan semua peserta di balik bivak Peserta. Tujuh calon anggota muda Mapala Unifa ini pun bangun, memelas dan berbaris serta mengikuti instruksi korlap. “Kita akan keluar untuk jalan-jalan pagi . Siapkan jeriken dan botol air kalian. Kita juga singgah shalat” instrukisnya.

Pagi buta, masih gelap, sinar lampu senter menerangi jalan setapak ditengah semak belukar. Untuk keluar mesti menyisiri setapak menerobos semak belukar yang gatal dan melalui pamatang sawah yang becek.

Sehabis shalat subuh, peserta mengikuti Korlap, berjalan diatas “punggung” poros yang menghubungkan jalan Maros-Bone sampai di jembatan Bantingmurung. sesekali mobil transdaerah bone dan sinjai dan truk-truk lalu-lalang. Didepan permandian Bantingmurung , beberapa peserta berhenti dan memperhatikan patung monyet Bantingmurung. “Entah apa yang ada dipikirannya?”

Sekembalinya dari perjalanan pagi tersebut, Peserta mengambil air di rumah salah satu penduduk. kemudian mencari keong di sawah untuk makan pagi sebentar.

keong

keong

“Biasa ja ko makan seperti ini?”
“bisa ji kak”
“bagaimana caranya dimasak ini Kak?”
“Pecahkan kulit kerangnya dan potongi ekornya?” jawab Azis.
Mereka pun berbaris menuju lokasi camp memasuki belukar lagi.

Sekitar pukul 08.00 Wita, pemasangan instalasi Panjat tebing, prusiking dan rapeling oleh panitia selesai. Peserta pun diperintahkan membongkar bivaknya. Lalu membawa barang ke depan camp induk panitia. Barang dan carrier peserta semrautan dan lembab. “Hujan semalam mengguyur mereka”.


persiapan prussiking, rapeling dan rock climbing

persiapan prussiking, rapeling dan rock climbing

prussiking

prussiking

peserta lagi prussiking

peserta lagi prussiking

korlap memandu peserta prussiking

korlap memandu peserta prussiking

Sebelum peserta melakukan kegiatan pemanjatan, prussiking, dan rapeling. Masing-masing pendamping memberi sedikit teknik pembuatan harness webbing dan simpul serta jerat prussic kepada peserta sambil menyaksikan beberapa panitia beraksi; pemanjatan tebing dan rapeling.

Semua kelompok push-up sebanyak 20 kali sebagai pemanasan. Khusus kelompok Bawakaraeng mendapat tambahan hukuman push-up karena kedapatan merokok.

Jam 10.00 wita, satu persatu peserta mulai mempraktikan prusiking lalu rapeling dan panjat tebing. Hingga kegiatan ini berakhir pukul 18.00 Wita.

Malam ini, tempat camp kelompok peserta dipindahkan. Kelompok Bawakaraeng di tempatkan jauh dari lokasi camp panitia sedangkan kelompok Bulusaraung tidak jauh dari camp induk panitia. Lokasi kelompok Bawakaraeng cukup aman dari guyuran hujan. Dibawa bongkahan batu besar.

Sekitar pukul tiga dinihari, hujan deras turun. Bivak kelompok Bulusaraung roboh, camp panitia dan kelompok Bawakaraeng kebanjiran. Sebagian panitia bergegas menyelamatkan barang-barang dan membuat parit. Sementara kelompok perempuan dipindahkan ditempat yang lebih tinggi. Di kaki tebing Depsos. Keadaan kelompok bawakaraeng juga demikian, banjir. Akhir mereka tidur sambil jongkok.

Hingga pagi, hujan belum redah dan kegiatan tetap berjalan. Kegiatan hari ini adalah navigasi. Para peserta dengan diguyur hujan berjalan sambil bermain orientasi pada titik-titik yang ditunjukkan. Mereka berjalan dengan tetap membawa carrier dan barang lainnya dari Depsos sampai jembatan Ta’deang.

Perjalanan yang dipandu langsung oleh Bang Nevy ini dan peserta dikawal oleh Kak Iping dan Kak Putri berjaraknya hanya 5 km.

Sekitar 2 jam berjalan, para peserta sudah sampai ditempat yang dimaksudkan. Jembatan Ta’deang. Tidak jauh dari jembatan tersebut, tim istirahat dan memasak untuk makan siang sambil menunggu pemasangan instalasi tyroline, untuk penyebrangan basah peserta nanti oleh Bang Nevy, Jo’ Edelweis, Iping, Pian dan Ophal.

Arus sungai begitu kuat dan ribut, satu-persatu peserta menyebrang, diawali oleh ketua kelompok Bawkaraeng, Adil Nesting. Semua peserta menikmati, adrenalin memuncak dan menembus ketakutan mereka.

“Saya mau pulang?” ucapan ini sudah dua kali dikeluarkan oleh Chris. Ia mulai menyerah. namun ia tetap menyebrang bersama peserta lain.

Sedangkan barang dan carrier-nya, ramai-ramai ditarik dari seberang sungai oleh peserta.

penyebarangan sungai

penyebarangan sungai

penyebarangan sungai

penyebarangan sungai

Setalah semua menyebrang, Korlap mengantar mereka menuju titik lokasi camp, dengan membuat bivak di kaki tebing goa Saripah. Sedangkan panitia didalam goa Saripah. (next) 990311.I.016

Pra Diksar IX Mapala Universitas Fajar

lembah Ramma

ssm1022221

keindahan lembah ramma

keindahan lembah ramma

Praktik navigasi

jurnalistik hijau

jh-oke2s

Catatan Perjalanan Latihan Gabungan Penelusuran Gua-Gua Vertikal*

Suara binatang malam bersahutan silih berganti seakan mengucapkan ‘welcome’ kepada kami, tim latihan gabungan (latgab) penelusuran gua (caving) Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Makassar di kec. Kappang, Kab. Maros, Februari 2007 lalu. Tim Latgab terdiri dari Korpala Unhas, Mapala Stiem Bongaya, Mapala UVRI, Suarabuana Uki Paulus, Mapala Stie LPI, Mapala Poltek, Mapala UIN, Mapala Unismu dan Kompala Stikom Fajar. Menelusuri empat buah gua vertikal dengan kedalaman rata-rata 30 M.

Perjalanan tim Latgab diawali dengan tracking pada malam hari menyisiri beberapa perbukitan terjal dan penuh semak belukar. Perjalanan tim agak lambat karena senter yang digunakan sebagai alat penerangan, tidak mampu membuat mata leluasa memandang jauh ke depan. Ditambah lagi beban berat dipundak sangat menguras tenaga. Namun, pelan tapi pasti akhirnya tim tiba di depan mulut Gua Patta, yang akan dijadikan camp selama kegiatan penelusuran gua berlangsung. Gua Patta dipilih sebagai camp, karena terdapat sumber air di sekitar gua ini.

Belum hilang rasa lelah, beberapa anggota tim langsung mendirikan tenda dan mempersiapkan alat masak. Lalu Pian bersama rekan dari Stiem, UVRI, Uki Paulus, Stie LPI dan Poltek mengambil air yang ada dalam Gua Patta yang jaraknya sekitar 500 meter dari mulut gua. Letak sumber air yang sulit, membuat kami harus scrambling (berpegangan ke batu) untuk sampai ke sumber air yang berasal dari tetesan stalkmit (ornament gua yang tumbuh di atap gua dan bentuknya meruncing ke bawah menyerupai tombak). Gerjen dengan kapasitas isi 50 liter pun sulit diangkat ke camp karena jalan licin dan terjal
Sementara di camp, rekan-rekan lain sibuk meracik makanan diatas kompor minyak. Segitu asiknya, semua makanan malam selesai sekitar pukul 02.15 dini hari. Usai makan, tim melakukan breafing untuk pembentukan tim kecil dan pembagian tugas masing-masing tim.
Tim I beranggotakan Oneng (Mapala UVRI), Musang (Mapala UIN), Ucup (Mapala Poltek) dan Asis (Mapala UVRI) akan menelusuri Gua Lantang Huu. Tim II menelusuri Gua Luang Kayu’ dengan anggota Pian (Kompala SF), Cimmang (Mapala Poltek), Nuri (Mapala Unismuh), dan Accung (Korpala). Sedangkan Tim III menelusuri Gua Alla Limbung dengan anggota Riging (Suarabuana Ukip), Zek (Mapala Stie LPI) Rama (Mapala Stiem) dan Azis (Kompala SF) yang merangkap tugas sebagai kameraman. Breafing berlangsung sekitar 2 jam, setalah itu seluruh anggota tim terlelap bersama mimpi-mimpinya.

Esoknya, selesai menikmati sarapan sekaligus makan siang, tim meninggalkan camp menuju lokasi gua sesuai kesepakatan saat breafing, yang jaraknya sekitar 500 M. Sebelum rigging (kegiatan pemasangan tali lintasan untuk dituruni para penelusur gua) semua Peralatan dikeluarkan, seperti; Harness Caving, berbagai macam carabiner screw dan nonscrew (snap), tali carmantel dynamic sekitar 500 M, Webbing, Hammer, Handdrill, Hanger, Piton, aneka macam footloop, cowstail. Kemudian alat SRT (Single Rope Technik) terdiri dari Ascender; Jummar, croll, chest harness dan Descender; Bobbins petzl autostop, petzl rack, Basic, dan dimasukan ke ropebag dan diberikan ke masing-masing tim.

Untuk memasuki gua Vertikal, perlatan SRT sangat dibutuhkan, boleh dikata peralatan vital bagi caver (penelusur gua) dan yang tak kalah penting adalah helmet atau helm, bukannya Polisi berjaga dalam gua tapi untuk melindungi kepala dari benturan atau terpeleset dalam gua.

Lokasi gua yang berdekatan memungkinkan Azis dari Kompala Stikom Fajar, yang bertugas mengambil gambar untuk dapat mendokumentasikan semua tim. Pian yang bergabung dalam tim II menelusuri gua Luang Kayu, gua multipicth (memiliki banyak teras). Accung dari Korpala UH, sebagai ketua tim II memastikan lintasan siap dituruni (descanding), satu persatu para caver menuruninya, bergelantungan pada lintasan hingga dasar gua yang dalamnya sekitar 30 M. sesampai di dasar gua, terdapat lagi lorong kecil dan sempit (micro cave) dan sangat susah lewali apalagi teman-teman yang badannya lebih besar. Didalam lorong sempit itu terdapat teras (picth) dengan kedalaman sekitar 15 M. kami pun memasang lintasan agar mudah sampai diteras tersebut.

Dengan penerangan headlamp, kami sampai sudah sampai didasar dan melanjutkan penelusuran di micro cave hingga tidak ada lagi lubang yang terlewati. Ini menandakan kami telah tiba dasar gua Luang kayu. Hari itu juga tim II berhasil menelusuri gua Luang Kayu kemudian naik ke atas tanah.

Berhasil menelusuri gua Luang kayu, anggota tim penasaran ingin menelusuri gua lain yang sudah dipasangi lintasan oleh tim I dan tim III. Alat SRT dibadan segera dikencangkan dan memeriksa kembali peralatan seperi harness, chest harness, croll, Jummer, cowstail, dan Autostop jangan sampai ada yang terlepas atau terbuka. Perjalanan menuju gua Lantang Huu’, tim III masih berusaha memasang lintsan di Gua a’la limbung. Kondisi tubuh tim lain yang sudah capai turun naik di luang kayu, tapi tidak mengurangi semangat dan mental Pian memasuki gua Lantang Huu yang dalamnya sekitar 56 M.

Memasuki Gua Lantang Hua ibarat menuruni sumur, tak ada microcave atau teras-teras lagi didalamnya atau merupakan gua longpicth. tubuhku bergelantung seutas tali pada ketinggian 56 M dari dasar gua. Dengan sisa tenaga yang masih tersisa serta semangat tinggi bergelantung pada tali lintasan, akhirnya sampai juga di dasar gua.

Karena hari mulai sore, saya tidak boleh berlama-lama di dasar gua, ku pasang ascender pada tali, tenaga terkuras habis namun aku harus terus berjuang untuk sampai ke atas karena beberapa jam lagi malam dan masih banyak teman lain yang belum turun serta lintasan musti di clean. sesampai diatas tanah sesaat tubuh ini ke rebahkan di atas batu cadas dekat mulut gua.

***
Penelusuran gua hari pertama telah selesai. Semua alat yang dipakai di packing termasuk menarik tali lintasan dari dalam gua. Untunglah, hujan turun saat tim sudah menyelesaikan penelusuran gua pada hari pertama.

Hari kedua, penelusuran gua kembali dilanjutkan. Formasi tim tetap sama namun lokasi gua yang berbeda. Tim I dan tim II digabung menelusuri gua Latif sementara tim III menelusuri gua Sammani mengingat sumuran gua yang sempit. Kami mulai menuruni sumuran gua latif dan mendapati lantai pertama yang lebarnya sekitar 50 meter persegi dengan kedalaman sekitar 25 meter. Saat semua personil berhasil turun, penelusuran dilanjutkan dengan mengambil lorong ke kiri. Yang ikut hanya empat orang; Accung, Asis, Musang, dan Pian. Kemudian menuju lantai kedua tingginya sekitar 15 meter. Di tempat ini terdapat sebuah lubang kecil. Untuk memasuki lubang itu sangat susah, harus memanjat lalu memasukkan kepala dan memiringkan badan kemudian mendorongnya.

Saat berhasil melewati lubang kecil itu aku sangat terkejut mendapati aula yang sangat besar. Cahaya lampu headlamp terpantul oleh kilauan mutiara yang terdapat pada dinding dan lantai aula itu. Dengan sangat hati-hati kami berjalan di hamparan mutiara itu mendapati lagi sebuah lubang yang ada dipojok aula itu. Tanpa membuang waktu lubang itu dipasangi tali, lalu memasukinya hingga ke dasarnya sekitar 30 meter dalamnya. Suhu agak panas dan cahaya lilin agak redup yang menandakan oksigen di tempat ini kurang, membuat kami tidak bisa berlama-lama dan secepatnya keluar dari tempat itu.

Dengan perasaan puas kami keluar dari aula hamparan mutiara menaiki lantai satu dimana teman yang lain menunggu. Sampai disitu ternyata hari sudah malam. Makan malam pun sudah siap saat kami menyelesaikan penelusuran gua Sammani. Puas dan bangga, itulah yang ada di benak anggota tim latgab yang telah menyelesaikan misi ini.

Hari ketiga, sebelum meninggalkan lokasi kegiatan, tim mengadakan evaluasi dari kegiatan ini. Semua personil menginginkan adanya tindak lanjut dari kegiatan ini dan tidak hanya sampai disini saja. Tentu saja dengan persiapan yag lebih bagus. Setelah sarapan kami berdoa kemudian meninggalkan tempat itu. [16 April 2007]

Catatan perjalalan peserta Diksar VI Kompala SF

PERJUANGAN MERAIH SELEMBAR SLAYER JINGGA

Kebahagiaan dan rasa bangga terpancar dari wajah kami, peserta Diksar VI Kompala Stikom Fajar (KSF), Muchtar A (Jalling), A.Husain (Ucheng), Mardiah (Diah) dan Odilia.P (Odil).

Kebanggaan karena berhasil mendapatkan slayer jingga dan segudang pengalaman baru setelah mengikuti Pendidikan Dasar (Diksar) VI Kompala Stikom Fajar selama 4 hari di Kabupaten Maros. Slayer jingga yang menandakan bahwa kami telah dikukuhkan menjadi anggota muda KSF.

Tak mulus jalan yang kami lalui untuk meraih slayer tersebut. Sebelum mengikuti pendidikan dasar lapangan, kami harus melalui beberapa tahapan yang penuh liku. Selain itu, kami pun harus menyiapkan mental dan fisik agar dapat mengikuti diksar lapangan dengan maksimal.

Hari Kamis 4 Mei 2006 tepat pukul 17.00, kami bersama beberapa panitia; Kak Ochang, Kak Azis, Kak Chimot, Kak Iping, Kak Pian, dan Kak Ophal berangkat menuju lokasi diksar.

Matahari sudah bersembunyi, ketika pete-pete dengan plat DD 1851 T membawa rombongan kami tiba di Desa Panaikkang, Maros. Di desa itu kami menginap di salah satu rumah penduduk yang bernama Bapak Mappi. Para penghuni rumah tersebut sangat ramah dan bersahabat. Bahkan kami sempat santap malam bersama dan bercerita tentang Desa Panaikang bersama mereka.

Setelah makan malam kami diberi materi Penanganan Pertama Pada Gawat Darurat (PPGD) oleh kakak-kakak senior. Selanjutnya Kak Ochank memberi arahan dan aturan main selama pelaksanaan diksar sekaligus pemilihan ketua tim. Ucheng dipercaya memimpin tim diberi nama Bawakaraeng, Jalling mendapat nama Latimojong, Lompobattang untuk Odil dan Bulusaraung nama untuk Mardiah. Sedangkan tim kami diberi nama Kabut Rimba Leang-leang.

Keesokan harinya, sembari menyiapkan sarapan, kami menyempatkan diri melihat-lihat keindahan Desa Panaikang yang dikelilingi tebing-tebing cadas dan persawahan. Kicau burung-burung dan gemericik air sungai menambah keasrian desa tersebut.

Tepat pukul 09.00 wita,kami mulai treking menuju Desa Lampeso. Kak Ocang dan Kak Chimot, berjalan paling depan dan bertindak sebagai sebagai leader. Sementara Kak Pian dan Kak Iping yang berjalan di belakang kami bertugas sebagai sweeper (penyapu jalur). Kak Opal sendiri berjalan beriringan bersama kami karena tugasnya memang sebagai pendamping peserta diksar.

Untuk tiba di Desa Lampeso membutuhkan waktu perjalanan kira-kira tujuh jam. Selama treking kami melalui medan yang lumayan sulit, seperti jalan berbatu yang licin dan agak terjal. Walaupun perjalanan tersebut sangat melelahkan, tapi semangat kami tak pernah surut. Malah semakin berapi-api dengan harapan segera tiba di desa Lampeso.

Hari sudah sore saat kami tiba di Desa Lampeso. Setelah meminta ijin , kami langsung mendirikan tenda di halaman sebuah rumah penduduk yang ditempati para senior menginap.

Desa Lampeso adalah sebuah desa yang terletak di kaki Gunung Bulusaraung. Dari desa itu kita dapat melihat jelas Puncak ulusaraung yang menjulang kokoh. Selain gunung Bulusaraung, desa itu juga dikelilingi beberapa bukit yang berbaris rapi.

Perlahan tapi pasti sang waktu terus merangkak. Tak terasa pelaksanaan Diksar VI KSF telah memasuki hari ke-3, tepatnya pada tanggal, 6 Mei 2006. Para panitia dan kami packing, dan bersiap-siap melanjutkan perjalanan menuju Kampung Beru yang menjadi target camp hari ke tiga. Pukul 10.00 wita team leader sudah berangkat. Setengah jam kemudian kami dan team sweeper menyusul.

Di tengah perjalanan, kami singgah di sebuah sungai untuk mandi. Kebetulan saat itu kami mendapati Kak Ocang dan Kak Cimot sedang beristirahat. Disungai itu kami bermain air sepuasnya, layaknya anak kecil. Puas membersihkan badan dan bermain air, kami pun melanjutkan perjalanan setelah mendengar suara sempritan Kak Ocank, yang menandakan tim leader akan melanjutkan perjalanan.

Medan yang kami tempuh di hari kedua perjalanan, lebih sulit dengan jarak tempuh yang lebih jauh dibandingkan hari sebelumnya. Sebab jalur yang kami lalui sangat terjal dan berbatu sehingga kami harus melakukan scrambling (berjalan sambil memanjat) agar dapat melaluinya. Selain itu, kami diharuskan menyeberangi sebuah sungai besar yang lumayan dalam sambil meniti lintasan tali yang dipasang Kak Ocang dan Kak Cimot.

Saat masuk waktu salat Maghrib, para senior memutuskan beristirahat di hutan pinus sekaligus untuk menyiapkan senter masing-masing, Saat itu, kegelapan telah menyelimuti hutan pinus.

Lewat waktu Maghrib, rombongan melanjutkan perjalanan. Namun, baru beberapa menit kami berjalan, Mardiah tiba-tiba jatuh pingsan karena kelelahan. Untungnya, lokasi camp sudah dekat. Setelah mendapat perawatan dan Mardiah sudah siuman, perjalanan kami lanjutkan.

Hari ke-4 diksar, setelah packing (berkemas), kami melanjutkan perjalanan menuju Bengo-bengo. Di sana, ternyata tim pejemput telah menanti. Setelah cuci kaki, kami pun naik ke rumah dan istirahat untuk persiapan pelantikan pada malam harinya.

Tepat pukul 19.00 wita, kami diminta mengenakan baju kaos diksar yang sudah dibagikan sebelumnya oleh Kak Ochank. Selanjutnya, kami mendapat arahan mengenai aturan yang harus kami taati pada proses pelantikan sebagai anggota muda.

Sebelum dilantik kami mesti melalui beberapa pos untuk menguji mental dan fisik kami sebagai calon-calon pendaki tangguh yang taat etika.

Momen yang dinantikan akhirnya tiba, yaitu upacara pelantikan. Puncak acara kami dipanggil satu per satu untuk menerima pemasangan slayer dari para panitia,sebagai tanda pengukuhan kami menjadi Anggota Muda Kompala Stikom Fajar.  (diksar vi /12/03/2006)