
- PELEPASAN DIKLATSAR IX MAPALA UNIFA

Semua peserta dan panitia nampak siap-siap; ada yang masih mem-packing pakaian, makanan instant, kompor ke dalam tas besar (carrier), menyetel dan merapikan carrier-nya kembali. Menggulung matras (spon) dan menyelipkannya di samping carrier, memakai sepatu tracking dan masih ada diantara mereka bingung “apa lagi yang kurang?”
Siang itu, selasa 16 Desember 2008, langit diatas Markas Besar (Mabes) Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Universitas Fajar (unifa) terlihat sangat mendung. Sebentar lagi hujan deras menguyur acara pelepasan ini. Bagaimana dengan Maros, lokasi Diklatsar? “Pastilah hujan” kata Ophal
“Siaaap grraakkkk!” teriak pian, mantan ketua Kompala Stikom Fajar (nama sebelum Universitas Fajar terbentuk) ditugasi sebagai kordinator lapangan (korlap) Diklatsar IX Mapala Unifa. Suaranya memecah kebisingan peserta dalam lapangan basket Unifa.
“Kita akan ke lapangan bukan untuk main-main!” tegasnya dihadapan barisan peserta yang berbaris rapi dengan carrier di depannya.
“Tapi untuk belajar di alam. Di lapangan peserta akan dibatasi oleh aturan. Jadi saya memberikan waktu dua menit untuk berpikir untuk mundur dari kegiatan ini. Jika kalian tidak siap menerima aturan”
“Bagaimana. Siap?” teriaknya
“Siap!” teriak peserta
“Bagaimana. Siap?” tanyanya lagi untuk menegaskan
“Siaap!” serentak peserta. Raut wajahnya nampak berubah, keluh dan kesah mendengar ucapan itu. Namun ini pendidikan kawan!. Pendidikan – apa lagi di alam (Maros) cukup ganas – akan berjalan baik jika ditopang oleh aturan.
Persiapan pelepasan dirasa telah selesai oleh Pian. Dibelakangnya, Kepala Biro Kemahasiswaan Unifa, Muchlis Hasan SE, M.Si sedari tadi menunggu dan siap untuk melepas secara ini secara resmi. Disampingnya berdiri Opal (Moh. Fhadli Alim) ketua Mapala Unifa, Odilia Palamba,Sekretaris dan para panitia.

PELEPASAN DIKLATSAR IX MAPALA UNIFA
“Inti dari kegiatan organisasi ini bukanlah bagaimana kalian harus bisa memanjat tebing, menaiki gunung atau menelusuri lorong-lorong gua yang gelap. Tapi bagaimana kalian bisa menumbuhkan rasa kebersamaan dan kekompakan dan mengelolah organisasi dengan baik dan benar” tegas Bapak Muchlis, yang juga akrab disapa Kak Buci ini.

Sambutan pelepasan Ka.Biro Kemahasiswaan Unifa, Muchlis Hasan, SE, M.Si. Didampingi Korlap, Pian Umar.
Tak lama setelah ceramah pelepasan itu, barisan peserta bersama korlap diguyur hujan. Semua basah, pakaian, badan, carrier dan barang bawaan lainnya.
Hujan yang menjatuhi atap Seng gudang kertas dan podium yang berada dalam lapangan basket meredam suara pian membacakan peraturan di hadapan peserta. Tak ada kompromi dari pembacaan itu.

Instruksi dari "Bapak" Korlap
Peserta hanya tujuh orang, tiga laki-laki dan empat perempuan. Mereka dipecah menjadi dua kelompok, menurut jenis kelamin dan menunjuk Putri dan Mardiah sebagai pendamping. Setelah itu, pendamping memeriksa bawaan peserta yang terlalu banyak dan berat.
Kemudian melucuti barang-barang dan pakaian karena terlalu banyak, bahkan makanan. Gunanya agar peserta tidak terlalu kewalahan membawa beban yang tidak penting untuk digunakan dilapangan. Seperti baju dan celana, minyak rambut, deodorant, bodylation,dan lain-lain. Kemudian mereka diberi satu carrabiner dan dua gukungan webbing, untuk diperguna dalam kegiatan di lapangan nanti

doa bersama sebelum berangkat
Rombongan Diklatsar IX Mapala Unifa meninggalkan kampus Unifa sekitar 16.30 Wita, dengan menaiki mobil pete-pete carteran dengan kode “D”sampai di pasar Daya. Kemudian menyambung pete-pete Maros lagi..
Singkat cerita, Pete-pete rombongan tiba di lokasi kegiatan, sekitar pukul lima sore. Tanpa istirahat, peserta digiring langsung menuju Tebing Depsos (tepatnya dibelakang kantor Departemen Sosial “Makkareso” Kabupaten Maros). Mereka pun diperintahkan untuk membuat tenda darurat alias bivak dan mencari ranting-ranting pohon untuk dijadikan api unggun.
“Dimusim hujan ini, kayu kering susah didapatkan. Untuk itu mereka harus inisiatif untuk tetap bertahan” ucap Pian
Kelompok laki-laki, terdiri; Ardy, Opik dan Adil. Sementara kelompok perempuan; Irma, Christin, Yuyun, dan Lana. Mereka nampak bahu-membahu mendirikan bivak, mengikat ujung ponco (jas hujan tentara) dipohon-pohon dan bongkahan batu besar terdekat mereka. Kemudian salah Adil dan Yuyun mengambil air untuk keperluan masak dan lainnya.
Pendirian bivak dua kelompok selesai sekitar pukul 18.00 Wita. Sementara usaha mereka membuat api unggun, dinilai gagal. Sedari sore memancing api hanya menghasilkan bara api setelah itu mati. Api unggun yang dimaksudkan sebagai penerangan dan pelindung dari binatang, ditaktisi dengan lilin. “Pantas ko tidak nyala, yang dibakar batang bambu. Coba ko batang kayu. Pasti terbakar?” kata putri pada kelompok perempuan.
“Ba’da Isya, Kak Azis datang, menyuruh kami bergegas memasak” kata Ardy, salah satu peserta. Kemudian menyuruh bangunkan Adil.
“Sekarang saya akan mengganti nama kalian” kata Azis
“Adil namamu sekarang “Nesting”, kau Opik dengan “Kompor” dan Ardy sebagai “Korek”. Sedangkan nama kelompokmu Gunung Bawakareang”
Sementara di kelompok Perempuan, diberi nama Gunung Bulusaraung dan memberi nama Irma dengan “Piton”, “Christin” dengan “Figur”, Yuyun “Frussik”, Lana dengan “Carabiner”.
Karena hujan, Api unggun kelompok Bawakaraeng mati. Api dapat menyala setelah satu jam berusaha meniup sampai napas hampir habis dan mengipas lalu memisahkan batang bambunya. Tapi menghabiskan dua batang lilin. Itu pun setelah Pian datang dan menyarankan agar batang bambu dikeluarkan dan mencari lagi kayu bakar” ucap Opik “kmpor” yang sementara jaga malam.
“Sekitar pukul tiga dini hari, Kak Azis datang” kata Opik, lalu menegur kami karena api unggunnya mati. Lalu menyuruhku untuk membangunkan Adil dan Ardy. Kedatangan Kak Azis kali ini untuk memberikan amanah.
“Apa itu amanah” Tanya Azis pada mereka bertiga.
“Tanggungjawab, kak? Jawab Ardy “Korek”.
Lalu Azis mengeluarkan sebutir telur mentah yang bertuliskan “Mapala Unifa”
“Telur ini adalah amanah, kalian harus selalu menjaganya dan membawanya setiap kegiatan. Kalo pecah, ada ganjarannya?” seru Azis.
Tak lama, pendamping kelompok bawakaraeng ini mengeluarkan tali rapiah.“Untuk apa ini?” Tanya Adil Nesting.
“Mana pergelangan kaki kananmu ” lalu Azis mengikat kaki kanan mereka.
“Ingat ikatan ini jangan dilepas. Dimana pun kalian harus tetap bersama?” tegasnya
Begitu pula kelompok gunung Bulusaraung. Pergelangan kaki kirinya diikat oleh pendampingnya, Putri dan Ijah. Dikelompok ini, karena keasyikannya tidur tendanya terbakar!
***

lokasi Diklatsar IX Mapala Unifa
Adzan subuh dari Musala Depsos membangunkan peserta dan panitia. Hari kedua Diklatsar IX Mapala Unifa pun dimulai.
“Bangun…bangun…bangun!” teriak pian sebagai Korlap dari tanah Enrekang ini
Kemudian Pian bergegas membangunkan semua peserta di balik bivak Peserta. Tujuh calon anggota muda Mapala Unifa ini pun bangun, memelas dan berbaris serta mengikuti instruksi korlap. “Kita akan keluar untuk jalan-jalan pagi . Siapkan jeriken dan botol air kalian. Kita juga singgah shalat” instrukisnya.
Pagi buta, masih gelap, sinar lampu senter menerangi jalan setapak ditengah semak belukar. Untuk keluar mesti menyisiri setapak menerobos semak belukar yang gatal dan melalui pamatang sawah yang becek.
Sehabis shalat subuh, peserta mengikuti Korlap, berjalan diatas “punggung” poros yang menghubungkan jalan Maros-Bone sampai di jembatan Bantingmurung. sesekali mobil transdaerah bone dan sinjai dan truk-truk lalu-lalang. Didepan permandian Bantingmurung , beberapa peserta berhenti dan memperhatikan patung monyet Bantingmurung. “Entah apa yang ada dipikirannya?”
Sekembalinya dari perjalanan pagi tersebut, Peserta mengambil air di rumah salah satu penduduk. kemudian mencari keong di sawah untuk makan pagi sebentar.

keong
“Biasa ja ko makan seperti ini?”
“bisa ji kak”
“bagaimana caranya dimasak ini Kak?”
“Pecahkan kulit kerangnya dan potongi ekornya?” jawab Azis.
Mereka pun berbaris menuju lokasi camp memasuki belukar lagi.
Sekitar pukul 08.00 Wita, pemasangan instalasi Panjat tebing, prusiking dan rapeling oleh panitia selesai. Peserta pun diperintahkan membongkar bivaknya. Lalu membawa barang ke depan camp induk panitia. Barang dan carrier peserta semrautan dan lembab. “Hujan semalam mengguyur mereka”.


persiapan prussiking, rapeling dan rock climbing

prussiking

peserta lagi prussiking

korlap memandu peserta prussiking
Sebelum peserta melakukan kegiatan pemanjatan, prussiking, dan rapeling. Masing-masing pendamping memberi sedikit teknik pembuatan harness webbing dan simpul serta jerat prussic kepada peserta sambil menyaksikan beberapa panitia beraksi; pemanjatan tebing dan rapeling.
Semua kelompok push-up sebanyak 20 kali sebagai pemanasan. Khusus kelompok Bawakaraeng mendapat tambahan hukuman push-up karena kedapatan merokok.
Jam 10.00 wita, satu persatu peserta mulai mempraktikan prusiking lalu rapeling dan panjat tebing. Hingga kegiatan ini berakhir pukul 18.00 Wita.
Malam ini, tempat camp kelompok peserta dipindahkan. Kelompok Bawakaraeng di tempatkan jauh dari lokasi camp panitia sedangkan kelompok Bulusaraung tidak jauh dari camp induk panitia. Lokasi kelompok Bawakaraeng cukup aman dari guyuran hujan. Dibawa bongkahan batu besar.
Sekitar pukul tiga dinihari, hujan deras turun. Bivak kelompok Bulusaraung roboh, camp panitia dan kelompok Bawakaraeng kebanjiran. Sebagian panitia bergegas menyelamatkan barang-barang dan membuat parit. Sementara kelompok perempuan dipindahkan ditempat yang lebih tinggi. Di kaki tebing Depsos. Keadaan kelompok bawakaraeng juga demikian, banjir. Akhir mereka tidur sambil jongkok.
Hingga pagi, hujan belum redah dan kegiatan tetap berjalan. Kegiatan hari ini adalah navigasi. Para peserta dengan diguyur hujan berjalan sambil bermain orientasi pada titik-titik yang ditunjukkan. Mereka berjalan dengan tetap membawa carrier dan barang lainnya dari Depsos sampai jembatan Ta’deang.
Perjalanan yang dipandu langsung oleh Bang Nevy ini dan peserta dikawal oleh Kak Iping dan Kak Putri berjaraknya hanya 5 km.
Sekitar 2 jam berjalan, para peserta sudah sampai ditempat yang dimaksudkan. Jembatan Ta’deang. Tidak jauh dari jembatan tersebut, tim istirahat dan memasak untuk makan siang sambil menunggu pemasangan instalasi tyroline, untuk penyebrangan basah peserta nanti oleh Bang Nevy, Jo’ Edelweis, Iping, Pian dan Ophal.
Arus sungai begitu kuat dan ribut, satu-persatu peserta menyebrang, diawali oleh ketua kelompok Bawkaraeng, Adil Nesting. Semua peserta menikmati, adrenalin memuncak dan menembus ketakutan mereka.
“Saya mau pulang?” ucapan ini sudah dua kali dikeluarkan oleh Chris. Ia mulai menyerah. namun ia tetap menyebrang bersama peserta lain.
Sedangkan barang dan carrier-nya, ramai-ramai ditarik dari seberang sungai oleh peserta.

penyebarangan sungai

penyebarangan sungai
Setalah semua menyebrang, Korlap mengantar mereka menuju titik lokasi camp, dengan membuat bivak di kaki tebing goa Saripah. Sedangkan panitia didalam goa Saripah. (next) 990311.I.016




